Rabu, 02 Maret 2011

Menghindari Keputus-Asaan


Oleh KH ABDULLAH GYMNASTIAR

Apapun OPINI yang berkembang tentang AA Gim, tapi apa yang ia katakan dan ia tulis dalam karya bukunya bisa membuat orang sadar dan mawas diri... Aa Gim banyak memberi motivasi.
Semoga bermanfaat....


Post Oleh: Rosi NS, S.Pd.I


SEANDAINYA mau jujur, bisa jadi kita adalah manusia pendosa yang sering melalaikan perintahNya. Kendati demikian, kita dilarang berputus asa dari ampunan Allah. Apalagi jika kita adalah orang yang senantiasa berusaha untuk mentaati-Nya.
Orang yang berputus asa terkadang nekad memohon kematian kepada Allah. Doa itu terucap karena ia tidak tahu bagaimana beratnya suasana di akhirat nanti. Dalam riwayat disebutkan, kelak di datangkan seorang manusia yang selama di dunia tidak pernah merasakan penderitaan sedikit pun sedang dia akan jadi ahli neraka. Lalu orang itu dicelupkan ke neraka hanya sekali celupan, kemudian dia ditanya: ”Apakah kamu selama hidup hanya merasakan kenikmatan saja?” Orang itu menjawab: ”Demi Allah saya tidak pernah merasakan kesenangan apapun.” Sebaliknya, orang yang selalu menderita selama di dunia, dia dicelupkan ke dalam syurga satu celupan saja. Kemudian dia ditanya: “Apakah kamu selalu menderita saja?” Dia menjawab: “Tidak. Sekali-kali aku tidak pernah menderita.”
Satu celupan saja baik di neraka atau di syurga bisa membuat orang terlupa dengan kesenangan atau penderitaan selama di dunia. Jika dibandingkan dengan siksa akhirat, siksa dunia itu tidak ada seujung kukunya. Kita bukanlah orang yang paling malang di dunia ini. Kita mungkin menderita dengan masalah-masalah sepele, tapi cobalah kita lihat kelebihan diri kita; kesehatan, kondisi fisik normal, kecerdasan, dan kesempatan baik lainnya. Banyak kebaikan jika kita mau menghitungnya. Sayangnya kita selalu melihat ke atas sehingga tidak pernah mensyukuri karunia Allah.
Tentu saja para setan akan tertawa terbahak-bahak melihat kita berputus asa apalagi jika kita memutuskan untuk bunuh diri. Itulah yang mereka dambakan karena misi mereka adalah mencari orang untuk menemani mereka di neraka Allah.
Orang yang ada di neraka itu tidak mati, tapi juga tidak hidup. Dikatakan hidup, namun mereka mengalami kematian berulang-ulang. Dikatakan mati, mereka terus disiksa tanpa henti. Mana lagi dari siksaan yang lebih hebat dari rasa sakit orang yang sedang mati?
Segeralah bertaubat kepada Allah atas keputusasaan kita. Tangisi sikap-sikap buruk selama ini pada Allah. Jangan berburuk sangka pada-Nya, jangan mengingkari kemurahan-Nya apalagi menantang Dia. Semua perbuatan buruk ini hanya akan mencelakakan kita sendiri. Allah tidak akan rugi dengan kedurhakaan kita, tidak pula Dia akan lebih terhormat dengan ketaatan kita. Allah tidak butuh kita, tapi kita butuh Dia.
Keputusasaan lahir dari kesalahan kita menyikapi ujian hidup ini. Tiada hari berlalu selain selalu mengeluh. Hasilnya adalah jiwa-jiwa yang rapuh, tidak percaya diri, juga mudah putus asa. Rasa nikmat akan dihilangkan dari orang yang selalu mengeluh dalam hidupnya. Di saat yang sama mereka akan dibenturkan pada kesulitan-kesulitan.
Ini adalah bentuk rasa tidak syukur kepada Allah. Sikap tidak syukur hanya akan menjadi penderitaan bagi pelakunya sendiri. “Jika kalian mensyukuri Aku akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu, tapi jika kalian mengingkari (nikmat-Ku) ketahuilah adzab-Ku adalah pedih.” (QS Ibrahim 14:7)
Lupakan semua keburukan yang ada. Bertaubatlah kepada Allah dengan sebenar-benar taubat agar hati kita terbuka. Cobalah berlatih untuk tidak membesar-besarkan kesulitan. Mulailah kita belajar menghitung-hitung kebaikan. Pada awalnya mungkin susah, tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Bahagia itu bukan ada atau tidaknya kenikmatan, tapi kepandaian dalam menghargai kenikmatan yang ada. Wallahua’lam.***

Tidak ada komentar: